Dikutip dari laman Detik Health, vagina yang sehat memiliki cairan yang cenderung jernih atau agak keputihan. Cairan tidak tidak menimbulkan bau, rasa gatal, tidak putih, dan tidak bertekstur sepeti susu yang pecah.
Agar lebih memahami sehat tidaknya cairan vagina tersebut, berikut beberapa jenisnya yang sebaiknya dipahami oleh setiap wanita:
- Bening, putih, dan elastis. Ini adalah cairan akibat terjadinya pematangan sel telur atau ovulasi. Paling banyak ditemukan pada saat datangnya masa subur. Pada pasutri yang ingin punya anak, waktu inilah yang tepat untuk bersenggama dan memasukkan sperma ke rahim.
- Putih, membuat gatal, dan seperti keju cair. Ini disebabkan oleh infeksi jamur secara berlebihan pada vagina. Rasa gatalnya bisa tidak tertahan. Penyebabnya beragam mulai dari pemakaian antibiotik hingga area kemaluan terlalu lembab dalam jangka lama.
- Warna hijau kekuningan dan bau. Jika ini terjadi maka kemungkinan vagina terserang chlamydia atau gonorrhea. Kedua penyakit kelamin tersebut menyebabkan rasa terbakar saat berkemih. Gejala awal mungkin tidak dirasakan, namun tiba-tiba muncul cairan tersebut. Penyakit ini harus secepatnya ditangani.
- Warnya abu-abu, amis, dan tidak pekat. Kemungkinan disebabkan bakteri, apalagi kalau disertai bau amis yang kuat. Bacterial vaginosis (B) umumnya dialami wanita berusia 15-44 tahun dan kebiasaan pemicu pastinya belum ditemukan
- Memiliki bentuk berbusa, bau, dan warnanya abu-abu atau hijau. Wanita yang mengalaminya terserang trichomoaniasis. Penyakit seksual ini bisa menular lewat hubungan intim maupun tidak. Beberapa cara penularannya yaitu lewat handuk, vibrator, benda lain yang dipakai bersama-sama. Penyakit tersebut harus segera ditangani.
- Ada darah dalam cairan. Darah ini muncul di luar haid. Jika wanita sedang mengonsumsi pil KB sering terjadi di masa awal penggunaan akibat tubuh beradaptasi dengan hormone baru. Hanya saja, jika sedang tidak memakai alat KB, perlu segera diperiksakan. Bisa jadi terdapat lesi prakanker pada mulut rahim.
