(AS) Anthony Giannino, seorang ayah di Massachusetts, Amerika Serikat dilaporkan telah mengeluarkan anaknya dari mata pelajaran sejarah sekolah menengah setelah mengetahui bahwa kelas tersebut akan membahas pelajaran sejarah Islam.
Melansir The Huffington Post, Senin (27/10), Giannino mengatakan kepada WHDH-TV bahwa ia kesal melihat bagian dalam buku panduan Sekolah Negeri Revere yang menggambarkan adzan. Dimana bagian dari panggilan tersebut menyebutkan,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah."
"Tidak ada agama harus diajarkan di sekolah. Dalam tulisan mereka mengatakan Allah, hanya Allah mereka. Itu menghina saya sebagai seorang Kristen yang percaya hanya Yesus saja," ujar Giannino.
Menurut WHDH, Giannino kemudian menarik anaknya keluar dari kelas, sambil berkata,
"Kami tidak percaya pada Allah. Saya tidak percaya pada anak saya belajar tentang ini di sini," ujarnya.
Inspektur Sekolah Negeri Revere, Paul Dakin mengatakan bahwa Giannino adalah yang pertama menyatakan keprihatinannya dengan kurikulum sekolah di awal bulan ini. Dakin mengatakan Giannino telah memutuskan untuk mengeluarkan anaknya dari kelas sejarah di sekolah tersebut dan keumdian menggantinya dengan les sejarah di tempat lain.
Dakin menekankan bahwa distrik sekolah Revere mengajarkan sejarah, bukan agama, dan bahwa Massachusetts membutuhkan sekolah menengah untuk menutupi topik tersebut.
Menanggapi kritik publik Giannino ini, Dakin mengirimkan surat kepada orang tua menjelaskan apa surat itu menggambarkan sebagai kesalahpahaman informasi yang salah beredar tentang ajaran agama di sekolah menengah ilmu sosial kelas kami.
"Dalam kelas sekolah menengah kami, kami mengajarkan Dunia Geografi di kelas 6, Peradaban Kuno di kelas 7, serta Sejarah Dunia I di kelas 8. Seperti dengan semua program kami, apa yang kita mengajar siswa di kelas ini berdasarkan pada kurikulum Massachusetts Frameworks. Dokumen-dokumen ini mengidentifikasi standar khusus belajar dan konsep dan keterampilan untuk setiap tingkat kelas dan masing-masing daerah konten," sebut surat itu.
Surat tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada agama yang diajarkan dengan tujuan mengubah siswa untuk pindah ke agama itu. Menghina keyakinan agama mereka sendiri, atau mempromosikan kepercayaan dari salah satu agama sebagai lebih unggul dari keyakinan lain.
Dakin meyakinkan bahwa tidak mungkin untuk mengajarkan sejarah akurat tanpa menjelaskan pentingnya iman agama.
"Jika sekolah-sekolah harus membersihkan semua agama dari semua sejarah yang kita ajarkan, maka kita tidak akan dapat berbicara tentang Pilgrims atau Plymouth, ... tentang mengapa mereka datang (ke Amerika) karena dari keyakinan agama. " tukasnya.
