30/08/14
Florence Sihombing Di-bully di Media Sosial, Politisi Ini Siap Membela
Sepekan ini media-media mainstream ramai mengupas tuntas kasus Florence Sihombing, mahasiswi S2 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ‘mencela’ Yogyakarta. Bermula dari Path soal keluhannya antri BBM di SPBU, warga jagat maya mem-bully-nya. Satu politisi di Twitter mengaku siap membela.
Dikisahkan belum lama ini Florence dengan sepeda motor hendak mengisi BBM di satu SPBU di Yogyakarta. Di kawasan Lempuyangan, ketika hendak mengisi Pertamax di antrean mobil, petugas SPBU ‘mengusirnya’ untuk pindah ke barisan antrean mengular sepeda motor. Kesal, jengkel, dongkol, dan emosi memuncak di SPBU, ia tumpahkan di media sosial.
Twitter @IndraJPiliang mencuit jika ia siap jadi saksi ahli yang akan meringankan Florence. Indra J Pialang adalah politisi Partai Golkar yang dipecat karena menyeberang ke kubu Jokowi-JK. Menurutnya, apa yang dikeluhkan Florence cerdas dan kritis. Sebab, yang terpenting adalah komentarnya tentang monopoli Pertamina.
Indra berpendapat ada dua cara dalam membaca tanggapan Florance, diakronis dan sinkronis. Jika dibaca secara sinkronis terkait sengkarut Pertamina, Florance, kata Indra, menukik tajam ke monopoli Pertamina yang gagal ciptakan kesejahteraan akibat minimnya pelayanan dan pemerataan SPBU.
Jika secara diakronis, Florance menggunakan bahasa ‘telanjang’ yakni kemiskinan. Rata-rata bully yang diterima Florance adalah teks yang ditulis dan ditafsirkan secara diakronis. Persoalan klasik di media sosial antara penulis dan pembaca berinteraksi tekstual dengan nalar masing-masing.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengingatkan warganya untuk selalu menjaga dan menjunjung tinggi toleransi. Menanggapi kasus Florance, ia berharap bisa diselesaikan secara santun.
“Justru di saat seperti ini, warga Yogyakarta bisa menunjukkan sikap yang berbudaya sehingga kondisi kota ini tetap nyaman,” tuturnya.
Klik disini untuk lihat lebih banyak
